Sosiologi
Komunikasi (Artikel Lengkap)
Sosiologi
komunikasi
adalah suatu ilmu yang mempelajari tentang ilmu komunikasi dari sudut
sosiologis. Dalam sosiologi komunikasi ini membahas tentang tinjauan sosiologis terhadap komunikasi baik sebagai aktivitas sosial, interaksi sosial antara individu
dengan individu, individu dengan kelompok dan kelompok- dengan kelompok maupun
efek sosial dari komunikasi dalam masyarakat tersebut.
dahulu
mengenai konsep-konsep penting yang berhubungan dengan sosiologi komunikasi
adalah konsep sosiologi, masyarakat dan komunikasi. Sosiologi. Konsep-konsep
tersebut merupakan konsep penting yang kemudian melahirkan studi-studi
integratif serta terkait satu sama lain sehingga melahirkan studi-studi
interelasi yang penting untuk dibicarakan disini sekaligus sebagai ruang
lingkup dalam studi-studi sosiologi komunikasi.
1.1. Sosiologi
Asal
kata Sosiologi adalah berasal dari kata sofie, yaitu bercocok tanam atau
bertanam, kemudian berkembang menjadi Socius (bhs. Latin) yang berarti teman,
kawan. Bearkembang lagi menjadi kata sosial yang berartiberteman, bersama,
berserikat. Kata sosial secara khusus adalah hal-hal mengenai berbagai kejadian
dalam masyarakat yaitu persekutuan manusia, dan selanjutnya dengan pengertian itu
bermaksud untuk mengerti kejadian-kejadian dalam masyarakat yaitu persekutuan
manusia, dan selanjutnya dengan pengertian itu untuk dapat berusaha
mendatangkan perbaikan dalam kehidupan bersama.
Dengan
kata lain menurut Hassan Shadily, Sosiologi adalah ilmu masyarakat atau ilmu
kemasyarakatan yang mempelajari manusia sebagai anggota golongan atau
masyarakatnya masyarakatnya ), dengan ikatan-ikatan adat, kebiasaan,
kepercayaan atau agamanya, tingkah laku serta keseniannya atau yang disebut
kebudayaan yang meliputi segala segi kehidupannya.
Pitirim
Sorokin
mengemukakan: sosiologi adalah suatu ilmu yang mempelajari:
- hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka macam gejala-gejala sosial (misalnya antara gejala ekonomi dengan agama; keluarga dengan moral; hukum dengan ekonomi; gerak masyarakat dengan politik dan lain sebaginya);
- hubungan dengan pengaruh timbal balik antara gejala sosial dengan gejala non sosial (misalnya gejala geografis, biologis dan sebagainya );
- ciri-ciri umum semua jenis gejala-gejala sosial.
Roucek
dan Warren
mengemukakan bahwa sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara
manusia dalam kelompok.
William
F. Ogburn dan Meyer F. Nimkoff berpendapat bahwa sosiologi adalah
penelitian secara ilmiah terhadap interaksi sosial dan hasilnya yaitu
organisasi sosial.
Prof.
DR. Selo Soemardjan
dalam bukunya Setangkai Bunga Sosiologi mendefinisikan proses sosial, termasuk
perubahan-perubahan sosial.
Sosiologi
adalah ilmu yang mempelajari tentang masyarakat, hubungan antara masyarakat dan
akibat dari hubungan tersebut. Karena sosiologi objeknya adalah masyarakat maka
cakupan dari objek sosiologi itu adalah individu, kelompok, dan masyarakat.
Proses hubungan inilah yang biasa disebut dengan istilah interaksi sosial.
Dengan
melihat pengertian sosiologi dan objek sosiologi tersebut maka dapat
disimpulkan sosiologi mempunyai fungsi:
- Berusaha untuk mendapatkan pengetahuan yang sedalam-dalamnya tentang masyarakat.
- Mendapatkan fakta-fakta masyarakat yang mungkin dapat dipergunakan untuk memecahkan persoalan-persoalan masyarakat.
- Sosiologi mempelajari gejala umum yang ada pada interaksi manusia.
1.2. Masyarakat
Menurut
Ralph Linton, masyarakat adalah sekelompok manusia yang telah hidup dan
bekerja bersama cukup lama, sehingga mereka dapat mengatur diri mereka dan
menganggap diri mereka sebagai dengan batas-batas yang dirumuskan dengan jelas.
Selo
Soemardjan menyatakan masyarakat adalah orang-orang yang hidup bersama, yang
menghasilkan kebudayaan.
Pengertian
manusia yang hidup bersama dalam ilmu sosial tidak mutlak jumlahnya, bisa saja
dua orang atau lebih, tetapi minimal adalah dua orang. Manusia tersebut hidup
bersama dalam waktu cukup lama, dan akhirnya melahirkan manusia-manusia baru
yang saling berhubungan satu dengan lainnya. Hubungan antara manusia itu,
kemudian melahirkan keinginan, kepentingan, perasaan, kesan, penilaian dan
sebagainya. Keseluruhan itu kemudian mewujudkan adanya system komunikasi dan
suatu kesatuan sosial peraturan-peraturan yang mengatur hubungan antara manusia
dalam masyarakat tersebut. Dalam system hidup tersebut, maka muncullah budaya
yang mengikat antara satu manusia dengan lainnya.
1.3. Komunikasi
Berikut
adalah pengertian komunikasi menurut beberapa ahli. Beberapa teori yang
dikemukakan dalam buku Teori Komunikasi antara lain dari:
- Anderson: Komunikasi adalah suatu proses dengan mana kita bisa memahami dan dipahami oleh orang lain. Komunikasi merupakan proses yang dinamis dan secara konstan berubah sesuai dengan situasi yang berlaku.
- Margarete Mead: Interaksi, juga dalam tingkatan biologis, adalah salah satu perwujudan komunikasi, karena tanpa komunikasi tindakan-tindakan kebersamaan tidak akan terjadi.
- Barnlund: Komunikasi timbul didorong oleh kebutuhan-kebutuhan untuk mengurangi ketidakpastian, bertindak secara efektif, mempertahankan atau memperkuat ego.
- Berelson dan Steiner: Komunikasi adalah proses penyampaian informasi, gagasan, emosi, keahlian dan lain-lain, melalui penggunaan simbol-simbol seperti kata-kata, gambar-gambar, angka-angka dan lain-lain.
- Onong Uchyana : Proses komunikasi pada hakikatnya adalah proses penyampaian pikiran, atau perasaan oleh seseorang (komunikator) kepada orang lain (komunikan). Pikiran bisa merupakan gagasan, informasi, opini, dan lain-lain yang muncul kepastian, keraguan. Kekhawatiran, kemarahan, keberanian, kegairahan, dan sebagainya yang timbul dari lubuk hati.
2. Sejarah
Sosiologi Komunikasi
2.1. FIlsafat Sosial
Pada
mulanya kajian tentang komunikasi, apalagi ilmu komunikasi adalah sesuatu yg
tidak pernah ada dalam khazanah ilmu pengetahuan. Ketika pada mulanya semua
masalah manusia masih dalam kajian filsafat, maka komunikasi selain tidak
terpikirkan atau belum dipikirkan oleh manusia (laten fenomena).
Pada
saat teori sosilogi sedang dibangun, minta terhadap ilmu pengetahuan meningkat
pesat, hal itu terjadi tidak saja diperguruan tinggi, namun juga di masyrakat
umumnya. Hasil sains termasuk teknologi mendapat apresiasi yang luar biasa di
masyarakat. Walaupun dikatakan apresiasi itu berkaitan dengan sukses besar
sains fisika, bilogi dan kimia (ritzer, 2004). Perdebatan antara perkembangan
sosiologi dan sains pada saat itu menjadi hal yang penting disinggung dalam
bagian awal ini untuk mendudukkna persoalan bahwa pada awal perkembangan teori
sosiologi, sosiologi dibesarkan oleh minat masyarakat terhadap sains yang
menginginkan sosiologi meniru kesuksesan sains atau karena kesuksesan sains
pada saat itu yang mengalihkan perhatian masyarakat terhadap sosiologi.
Rupanya, pada akhirnya masyarakat kemudian percaya bahwa perkembangan sosiologi
disebabkan karena adanya keunggulan pemikiran yang lebih menyukai sosiologi
sebagai sains.
Banyak
pengamat yang berpendapat bahwa perkembangan teori sosiologi dipengaruhi oleh
pemikiran-pemikiran abad pencerahan yang berkembang pada peeriode perkembangan
intelektual dan pembahasan pemikiran filsafat yang luar biasa. Pemikiran
manusia yang pada awalnya menaruh harapan yang besar terhadap mitos (sebelum
yunani kuno atau sebelum 600 SM), logos (yunani kuno atau 600 SM), dogma ( dan
kemudian beralih pada logos (pikiran manusia lagi)
2.2 Sosiologi Modern
Persoalan
manusia pada akhirnya diatasi filsafat melalui pendekatan filsafat, melalui
pendekatan filsafat sosial yang kemudian mampu menjawab persoalan-persoalan:
liberalisme, sosialisme, komunalisme dan welfareliberalism, namun untuk
menjawab persoalan-persoalan kemasyarakatan lainnya yang lebih konkret,
filsafat sosial mengalami hambatan metodelogis. Karena itu banyak persoalan
masyarakat lainnya yang lebih kongkret, filsafat sosial mengalami hambatan
metodelogis. Karena itu banyak persoalan masyarakat tidak bisa lagi diatasi
filsafat sosial yang sifat pendekatannya abstrak dan tidak konkret. Masyarakat
membutuhkan jalan keluar dari permasalahan kehidupan mereka yang serba spesifik
dan konkret. Dengan demikian, manusia membutuhkan ilmu pengetahuan yang
menjebatani filsafat dan manusia. Karena itulah lahir sosiologi sebagai jalan
keluar untuk membantu manusia memecahkan persoalan masyarakat.
Orang
pertama yang menggunakan istilah sosiologi adalah auguste comte (1798-1852).
Erikson (ritzer,2004: 16) mengatakan bahwa, menurut Erikson bukanlah penemu
sosiologi modern, karena selain teori sosiologi konservatif banyak dipelajari
oleh gurunya Cloude Henri Saint-Simon(1760-1852), adam smith atau para moralis
skotlandia adalah sumber sebenarnya dari sosiologi modern,
Pikiran-pikiran
comte juga dipengaruhi oleh pencerahan dan revolusi, ia juga sangat terpengaruh
oleh sains sehingga pandangan ilmiahnya memperkenalkan “positivisme” atau
“filsafat positif”. Lebih kongkret lai comte mengembangkan fisika sosial yang
pada tahun 1839 disebut dengan sosiologi (pickering, 2000 dalam Rizter, 2004:
16). Penggunaan istilah filsafat sosial, pada mulanya comte bermaksud agar
sosiologi meniru model hard science. Ilmu baru ini memepelajari social statics
( statistika sosial atau struktur sosial) dan social dynamic (dinamika sosial
atau perubahan sosial).
Pikiran-pikiran
comte pada waktu itu didasarkan pada pendekatan teori revolusinya dan hukum
tiga tingkatan( Rizter, 2004:17) comte mengatakan ada tiga tingkatan
intelektual yang harus dilalui kelompok masyarakat, ilmu pengetahuan, individu,
atau bahkan pemikiran masyarakat dan dunia sepanjang. sejarahnya pertama, tahap
teologis Yang menjadikan karakteristik dunia sebelum era 1300. Dalam
tahapan ini sistem gagasan utama menekankan pada keyakinan bahwa kekuatan
adikodrati, tokoh agama dan keteladanan kemanusiaan menjadi dasar segala hal.
Dengan demikian, dunia sosial dan alam fisika adalah ciptaan tuhan. Kedua, tahap
metafisika yang terjadi antara 1300-1800. Era ini ditandai dengan keyakinan
bahwa kekuatan abstraklah yang menerangkan segala sesuatu, bukanlah para dewa.
Dengan demikian pandangan terhadap ciptaan tuhan mengalami degradasi kekuasaan
dihadapan manusia. Ketiga tahun 1800 dunia memasuki tahap positivistik
yang ditandai oleh keyakinan terhadap sains. Manusia mulai cenderung
menghentikan penelitian terhadap kecenderungan penyebab absolut (tuhan atau
alam) dan memusatkan perhatian pada pengamatan terhadap alam fisik dan dunia
sosial guna mengetahui hukum-hukum yang mengaturnya.
Orang
lain yang berjasa pada awal perkembangan sosiologi adalah Emile Durkheim
(1858-1917). Karya-karya Durkheim masih diwariskan oleh pandangan pencerahan
pada sains dan reformasi sosial. Pandangannya tentang faktor-faktor sosial
menjadi dasar bagi sosiologi untuk mengkaji pandangan tentang apa sebenarnya
fakta sosial itu. Dalam bukunya yang berjudul The Rule of Sosiological Method
(1895/1982) Durkheim menekankan bahwa tugas sosiologi adalah mempelajari
fenomena penting dalam kehidupan manusia dalam dunianya yaitu fakta-fakta
sosial. Ia memendang bahwa fakta sosial adalah sebagai kekuatan (force) dan
struktur yang bersifat eksternal yang memaksa individu . memlalui karyanya yang
lain, yaitu Suicide (1897/1951) Durkheim mencoba menguji pandangan
sosiologisnya tentang hubungan sosial dan fakta sosialnya (Rizter, 2004:21).
Melalui
The Rule of sociological Method Durkhaim membedakan dua tipe fakta sosial,
yaitu fakta sosial materiil dan fakta sosial nonmateriil (kultur, institusi
sosial) ketimbang membahas fakta sosial materiil (birokrasi, hukum). Walaupun
dia membahasnya secara bersama-sama namun Durkheim lebih banyak menyoroti fakta
sosial non materiil ketimbang fakta sosial materiil.
Dalam
hal agama Durkheim berpandangan bahwa agama adalah salah satu fakta sosial non
materiil. Melalui karyanya yang terakhir, The Elementary Forms of Religious
Life (1912/1965), ia membahas masyarakat primitif untuk menemukan akar
agama. Ia yakin akan menemukan akar agama dengan jalan membandingkan masyarakat
primitif yang sederhana ketimbang mencarinya di dalam masyarakat modern yang
kompleks. Temuannya, bahwa sumber agama adalah masyarakat itu sendiri.
2.3. Lahirnya Sosiologi Komunikasi
Asal
mula kajian komunikasi dalam sosiologi bermula dari akar tradisi pemikiran Karl
Marx, dimana Marx sendiri adalah masuk sebagai pendiri sosiologi yang beraliran
jerman sementara Claude Henry Saint-Simon, Auguste Comte, dan Emile Durkheim
merupakan nama-nama para ahli sosiologi yang beraliran Perancis.
Sejarah
sosiologi komunikasi menempuh dua jalur. Kajian dan sumbangan pemikiran Auguste
Comte, Talcott Parson dan Robert K. Merton merupakan sumbangan paradigma
fungsional bagi lahirnya teori-teori komunikasi yang beraliran struktural
fungsional. Sedangkan sumbangan-sumbangan pemikiran Karl Marx dan Habermas
menyumbangkan paradigma konflik bagi lahirnya teori-teori kritis dalam kajian
komunikasi.
Sosiologi
sejak semula telah menaruh perhatian pada masalah-masalah yang ada hubungan
dengan interaksi sosial antara seseorang dan orang lainnya. Apa yang disebut
oleh Comte dengan ”Social Dynamic”, kesadaran Kolektif” oleh durkheim dan
interaksi Sosial Oleh Marx serta ”tindakan komunikatif” dan ”teori komunikasi”
oleh Habernas adalah awal mula lahirnya perspektif sosiologi komunikasi. Bahkan
melihat kenyataan semacam itu, maka sebenarnya gagasan-gagasan perspektif
sosiologi komunikasi telah ada bersamaan dengan lahirnya sosiologi itu sendiri
baik dalam perspektif struktural fungsional maupun dalam perspektif konflik.
Di
bawah ini kita bisa lihat aliran pemikiran dalam paradigma sosiologi komuniksi
komunikasi, dimana sosiologi sendiri sebenarnya telah mengkaji maslah
komunikasi secara tidak langsung dalam teori-teorinya.

Selain
apa yang disumbangkan Karl Marx dan Habermas mengenai teori kritis dalam
komunikasi, sumbangan dari perspektif struktural fungsional dalam sosiologi
yang diajarkan oleh Talcott Parson dalam teori sistem tindakan maupun dalam
skema Agil, serta kajian Robert K. Merton tentang struktur fungsional, struktur
sosial dan anomi, merupakan sumbangan-sumbangan yang amat penting terhadap
lahirnya teor-teori komunikasi di waktu-waktu berikutnya.
3. Jenis-Jenis
Sosiologi Komunikasi
Komunikasi
di dalam masyarakat dibagi atas 5 jenis:
- Komunikasi individu dengan individu (komuniksi antar pribadi)
- Komunikasi kelompok
- Komunikasi organisasi
- Komunikasi sosial
- komunikasi massa
Komunikasi
antar pribadi adalah komunikasi antar perorangan dan bersifat pribadi baik yang
terjadi secara langsung (tanpa medium) ataupun tidak langsung (melalui medium).
Contohnya kegiatan percakapan surat menuyurat pribadi. Fokus pengamatannya
adalah bentuk-bentuk dan sifat-sifat hubungan, percakapan, interaksi dan
karakteristik komunikator.
Komunikasi
kelompok, menfokuskan pembahasannya kepada interaksi diantara orang-orang dalam
kelompok-kelompok kecil. Komunikasi kelompok juga melibatkan komunikasi
antarpribadi. Bahasan teoritis meliputi dinamika kelompok, efisiensi dan
efektifitas penyampaian informasi dalam kelompok, pola dan bentuk interaksi,
serta pembuatan keputusan.
Komunikasi
organisasi menunjuk pada pola dan bentuk komunikasi yang terjadi dalam konteks
dan jaringan organisasi. Komunikasi organisasai melibatkan bentuk-bentuk
komunikasi antar pribadi dan komunikasi kelompok. Pembahasannya meliputi
struktur dan dan fungsi organisasi, hubungan antar manusia manusia, komunikasi
dan proses pengorganisasisan, serta kebudayaan organisasi.
Komunikasi
sosial menurut Astrid adalah salah satu bentuk komunikasi yang lebih intensif,
dimana komuniksi terjadi secara langsung antar komunikator dan komunikan,
sehingga situasi komunikasi berlangsung dua arah dan lebih diarahkan kepada
pencapaian suatu situasi integrasi sosial, melalui kegiatan ini terjadilah
aktualisasi dari bergbagai masalah yang dibahas. Komunikasi sosial sekaligus
suatu proses sosialisasi dan untuk pencapaian stabilitas sosial, tertib sosial,
penerusan nilai-nilai lama dan baru yang diagungkan oleg suatu masyarakat
melalui komunikasi soaisl kesadaran masyarakat dipupuk, dibina dan diperluas.
Melalui komunikasi sosial, masalah-masalah sosial dipecahkan melalui konsesus.
Pengertian
komunikasi massa menurut MC. Quil adalah komunikasi yang berlangsung pada
tingkat masyarakat luas. Pada tingkat ini komuniksi dilakukan dengan
menggunakan media massa.
4. Konsep
Sosiologi Komunikasi
Menurut
Bungin (2006 : 27-31), sosiologi komunikasi terdiri dari 4 konsep yang
sekaligus menjadi ruang lingkup sosiologi komunikasi. Ke-empat konsep tersebut
yakni sosiologi, masyarakat, komunikasi, dan teknologi media/informasi.
4.1. Sosiologi
(Selengkapnya
ada di bagian 1.1 di artikel ini)
Yang
dimaksud dengan sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antar manusia
sebagai makhluk sosial termasuk di dalamnya berbagai aktifitas atau gejala
sosial yang kemudian menghasilkan perubahan-perubahan sosial.
4.2. Masyarakat
(Selengkapnya
ada di bagian 1.2 di artikel ini)
Masyarakat
merupakan salah satu ruang lingkup dari sosiologi komunikasi. Artinya bahwa
masyarakat merupakan salah satu yang dibahas dalam sosiologi komunikasi. Apa
itu masyarakat? Sebetulnya, masyarakat merupakan objek dari sosiologi.
Masyarakat terdiri dari kumpulan orang-orang yang hidup berdampingan (hidup
bersama) dalam suatu wilayah dan terikat oleh aturan-aturan atau norma-norma
sosial yang mereka tentukan dan taati.
4.3. Komunikasi
(Selengkapnya
ada di bagian 1.3 di artikel ini)
Istilah
komunikasi dalam bahasa Inggris disebut communication, berasal dari bahasa
Latin, communicatio. Kata communicatio berasal dari kata communis yang artinya
sama. Komunikasi terdiri dari 5 unsur yakni:
- Komunikator (pemberi informasi)
- Pesan
- Media (saluran)
- Komunikan (penerima informasi/pesan)
- Efek (pengaruh).
4.4. Teknologi Komunikasi, dan
Informasi
Teknologi
komunikasi merupakan ruang lingkup ketiga dari sosiologi komunikasi.
Berbicara komunikasi, apalagi komunikasi massa tidak bisa kita pisahkan dari
persoalan teknologi komunikasi dan informasi. Teknologi komunikasi merupakan
salah satu saluran/channel yang digunakan untuk berkomunikasi dengan orang
lain.
Apa itu teknologi komunikasi?
Apa itu teknologi komunikasi?
Menurut
Alter (Bungin, 2006 : 30), teknologi informasi mencakup perangkat keras dan
perangkat lunak untuk melaksanakan satu atau sejumlah tugas pemrosesan data
seperti menangkap, mentransmisikan, menyimpan, mengambil, memanipulasi, atau
menampilkan data.
Martin
(Bungin, 2006 : 30) mendefinisikan teknologi informasi tidak hanya terbatas
pada teknologi komputer (perangkat keras dan perangkat lunak) yang digunakan
untuk memproses dan menyimpan informasi, melainkan juga mencakup teknologi
komunikasi untuk mengirimkan informasi.
Berdasarkan
definisi tersebut di atas maka kita dapat menyimpulkan bahwa teknologi
komunikasi berhubungan erat dengan perangkat keras dan lunak yang dapat
digunakan untuk memproses dan mengirimkan informasi.
5. Ruang
Lingkup Sosiologi Komunikasi
Adapun
ruang lingkup kajian sosiologi komunikasi adalah gejala, pengaruh dan masalah
sosial yang disebabkan oleh komunikasi. Ruang lingkup kajian sosiologi, yaitu
pengaruh atau akibat-akibat sosial yang terjadi atau ditimbulkan oleh
komunikasi. Dalam hal ini yang menjadi perhatian utama adalah bagaimana masalah
sosial itu terjadi. Aspek komunikasi apa atau yang bagaimana yang menyebabkan
timbulnya masalah tersebut. Dan dalam bahasan mata kuliah sosiologi komunikasi
ini akan difokuskan pada sosiologi komunikasi massa. Pada dasarnya antara
penelitian dibidang komunikasi dengan sosiologi komunikasi tidak mempunyai
hubungan yang langsung. Akan tetapi penelitian dibidang komunikasi mempunyai
kecenderungan untuk melakukan penelitian tentang:
- Struktur, pusat perhatian, perilaku masyarakat yang menjadi sasaran komunikator, maksudnya bagaimana sesuatu peran itu disampaikan, ataupun apakah yang akan menjadi pusat perhatian penelitian tersebut.
- Efektifitas komunikasi massa, maksudnya sejauh mana pengaruh yang dapat ditimbulkan oleh komunikasi massa.
- Efek-efek sosial dari komunikasi massa, maksudnya bagaimanakah pengaruh sosialdari komunikasi massa. Dan inilah sebenarnya yang menjadi salah satu bidang kajian sosiologi komunikasi massa.
Dengan
memperhatikan lingkup kajian sosiologi komunikasi tersebut, maka kita dapat
mengetahui bahwa komunikasi dengan media massa mempunyai sifat-sifat atau
ciri-ciri tertentu, disamping itu berbagai aspek komunikasi lainnya dapat pula
menimbulkan akibat-akibat atau pengaruh sosial lainnya, misalnya, sistem komunikasi
dapat menimbulkan pengaruh sosiologis, unsur-unsur komunikasi dapat menimbulkan
pengaruh sosiologis dsb. Gejala-gejala sosiologis yang terbentuk Dalam berbagai
kemungkinan sbb:
- Suatu sistem komunikasi massa dapat menimbulkan pengaruh terhadap masyarakatnya, maksudnya, suatu sistem akan menentukan bagaimana suatu kegiatan itu akan dilaksanakan, sehingga hal ini juga mengandung suatu pengertian bahwa sistem komunikasi massa akan mempengaruhi masyarakatnya, misalnya sistem komunikasi massa komunis mempunyai pengaruh tertentu kepada masyarakatnya.
- Sistem komunikasi massa dapat menyampingkan media komunikasi tradisional yang berlaku dalam kehidupan masyarakat.
- Sistem komunikasi massa merupakan sarana yang kuat dan luwes untuk menpengaruhi masyarakat sehingga suatu sistem komunikasi massa dapat menimbulkan pengaruh sosiologis yang kuat.
- Sistem komunikasi massa dapat menimbulkan sikap dan pandangan yang seragam terhadap gejala sosial tertentu, maksudnya, sistem tersebut dapat mempengaruhi penilaian masyarakat mengenai suatu masalah sosial tertentu yang ditimbulkan oleh media komunikasi massa.
Sumber:
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar